Jika salah satu dari Anda membaca ini dan berbaik hati ingin menyelamatkan saya dari kekejamannya, saya akan sangat senang. Sungguh.
Terima kasih.
Tertanda,
Saya yg pengen bakar-aja-buku-mtk-nya-dan-hilangkan-soal-limit-dari-us-besok.
Demi Tuhan, saya takut. Belum apa-apa, kalian sudah pergi terlalu jauh. Bagaimana nanti?
Kalian memang masih selalu ada saat saya butuhkan. Masih setia mendengarkan saat saya berkisah dan tertekan. Tapi, haruskah kalian ada hanya pada saat saya butuhkan?
Saya takut nantinya saya terbiasa tanpa kalian. Saya takut nantinya saya berpikir saya sudah mampu sendiri dan tidak lagi membutuhkan kalian. Jika sudah begitu dan begini keadaannya, maka kalian tidak akan ada lagi untuk saya, kan?
Saya bahagia jika kalian bahagia. Tapi, tidak bisakah kalian mengajak saya untuk ikut bahagia?
Tapi sebenarnya, siapa yang sudah pergi terlalu jauh? Kalian, atau jangan-jangan malah saya?
Demi Tuhan, saya takut dan kesepian.
X : Jadi, kamu suka kalo diperlakukan spesial?
Well, ya I love it. Memangnya ada yg enggak? Ada yg salah?
Saya nggak ngerti, bener-bener nggak ngerti. Anda yang merusak suasana, saya coba perbaiki, Anda marah, saya minta maaf.
Kemudian Anda hilang.
Saya nggak peduli, sebenarnya saya nggak peduli. Saya udah terlalu bingung sama Anda. Pertama, Anda yang mengacaukan suasana. Saya berharap kita bisa berteman baik loh, dan saya sudah jelaskan akan lebih baik kalau berteman. Saya fokus sama hidup saya, Anda fokus sama tujuan Anda. Entah Anda yang nggak nangkep penjelasan saya, atau Anda memang nggak mau terima.
Sejujurnya saya marah saat Anda merusak suasana, karena - mungkin tanpa Anda ketahui - saya menyukai obrolan kita. Tidak peduli apa yg kita obrolkan, tidak peduli miskomunikasi yg sering terjadi akibat perbedaan bahasa, saya menyukainya.
Mungkin apa yang Anda lakukan - apa yang saya sebut sebagai pengacau suasana - hanyalah suatu bentuk pernyataan pendapat dari Anda. Pendapat yang menurut saya terlalu cepat dilontarkan. Pendapat yang tidak terlalu saya sukai.
Saya tahu seharusnya saya menghargai pendapat Anda. Tapi seharusnya Anda juga mengerti kalo pendapat Anda itu telah mengganggu saya. Seharusnya Anda sudah mengerti saat saya mulai diam. Dan saat saya diam, seharusnya Anda ikut diam, bukan justru melontarkan pendapat tersebut di muka umum, dan membuat saya merasa makin terganggu.
Jadi tolong jangan salahkan saya saat saya mendadak diam.
Mungkin diamnya saya membuat Anda bingung. Dan saya tahu saya salah ketika saya tetap diam saat Anda meminta penjelasan. Tetap diam saat Anda bertanya "kenapa, kenapa, kenapa". Tetap diam saat Anda meminta saya menjawab Anda. Dan mungkin saat saya tetap diam itulah, saya menyakiti Anda.
Saya tidak mengerti apa yg sebenarnya terjadi. Tapi saya yakin, butuh waktu yang lama sampai saya menyadari saya salah.
Saya memutuskan untuk memperbaiki keadaan. Saat itulah saya sadar bahwa kita sudah tidak berbicara satu sama lain untk waktu yg lama. Saya bingung, jujur saya bingung bagaimana caranya. Lalu saya ingat obrolan kita yg terakhir, Anda memberitahu saya bahwa kita pernah berada di suatu event yg sama sebelumnya. Sebelum pertemuan kita di atas kursi itu. Dan Anda berjanji akan menceritakannya pada saya. Dengan dalih menagih janji Anda, saya mencoba memperbaiki suasana.
Namun ternyata Anda marah. Anda marah karena selama ini saya diam. Atau mungkin Anda marah karena menganggap saya mempermainkan Anda?
Demi nama Tuhan, tidak pernah ada niat buruk seperti itu.
Saat Anda marah, saya justru lebih marah. Berhakkah Anda marah pada saat itu? Mungkin Anda memang berhak, tapi Anda harusnya sadar apa yg membuat saya diam.
Tapi karena niat awal saya untuk memperbaiki suasana, saya mengalah, menekan ego saya, dan meminta maaf. Entah untuk apa. Mungkin agar suasana benar-benar membaik.
Kemudian Anda setuju untuk melupakan semuanya. Kemudian kita mengobrol lagi.
Tapi belum sempat kita mengobrol yg benar-benar seperti biasa, Anda menghilang.
Saya tidak mengerti apa ini bentuk balas dendam Anda terhadap saya, atau apa. Yang jelas kali ini, jika memang ada yg akan memperbaiki suasana, sudah pasti itu bukan saya.
Saat tiba-tiba saya mendengar kabar Anda yg semakin dekat dgn tujuan Anda, yg pernah Anda beritahu pada saya, saya ikut bahagia.
Tapi saat saya ucapkan selamat, Anda diam.
Saya tidak bisa menemukan Anda yang hilang. Dan saat saya bisa melacak jejak Anda, ternyata Anda yang telah menghilangkan jejak saya pada Anda.
Demi Tuhan, seperti apa yang pernah Anda katakan kepada saya, "Aku bingung sama kamu".
Untuk Anda yg bertemu saya di atas kursi, seperti apa yg pernah Anda katakan pada saya, "Aku nggak pernah ketemu orang kayak kamu".
Semoga kita bisa berteman lagi.
Alih-alih bangga, saya malah malu. Memangnya bisa apa saya?
Bukannya bahagia, saya malah cemas. Apa yg beliau pikir saya punya?
Atau jangan-jangan, beliau hanya tidak enak mengungkapkan keraguannya?
Hi! Well, I'm back. Bukannya sengaja menelantarkan blog ini, tapi kehidupan SMA ternyata benar-benar menyita waktu dan pikiran.
Dalam banyak hal, saya tahu saya salah, tapi kesalahan itu masih tetep saya lakuin. Misalnya nih, rencananya malam ini saya mau belajar kimia buat ngejer ketertinggalan saya akibat kesalahan-kesalahan yg saya perbuat sebelumnya. Tapi buktinya saya malah posting di blog. Salah kan, tapi tetep aja saya lakuin.
Saya sadar, sepenuhnya sadar kalo akhir-akhir ini saya banyak berencana tapi tanpa eksekusi. Jadi niat doang, banyak. Bagus-bagus lagi niatnya. Tapi ya sekali lagi, niat doang tapi nggak dieksekusi. Percuma lah. Salah kan? Saya tahu kok. Tapi tetep aja saya lakuin. Kenapa? Karena entah kenapa, yg seharusnya nggak dilakuin itu justru jauh lebih mudah daripada yg seharusnya dilakuin.
I'm totally realized that planning is totally different with doing.
Saya tahu dan saya sadar saya salah.
Celakanya, saya susah untuk berhenti.